Rabu, Januari 29, 2014
Remo dance from East Java
East
Java is famous with their customary hard and brave . Surabaya , the capital of
East Java , have already proved this since the days of struggle ago that
received the title Hero City . East Java Cultural loud it can also be displayed
with beautiful movement Remo Dance depicting the courage of a prince
History The origins of Dance Remo
Tari
Remo is a picture of the East Java kharakter dynamic community and a movement
through dance greeters welcome typical of East Java . This dance was originally
an introductory dance or puppet show ludruk Java easterlies . However , this time
is often danced separately as a guest speech on the state in a state ceremony ,
as well as the local arts festival .
Remo
dance tells the struggle of a prince in the battlefield . But in its
development is becoming more frequent dance danced by women , giving rise to
other dance styles : Remo Remo Dance daughter or female style. Mentioned that
this remo dance promoted around 1900 , which is then used by the Indonesian
nationalists to communicate to the public .
Motion Dance Remo
The
most important characteristics A Tari Remo is smart footwork and dynamic . This
movement is supported by the bells were installed at the ankle . The bell sound
when the dancers stepping or stomping on the stage . In addition , the movement
of the other characteristics A shawl or sampur , nod and shake of the head
movement , facial expression , and the horses dancers make this dance more
attractive .
Musical Instruments in Dance Remo
Remo
dance accompanied by gamelan music in a gising consisting of bonangs , saron ,
xylophone , gender , slentem , zither , flute , percussion , kenong , kempul
and gongs and rhythm using the rhythm gising slendro.Biasanya jula - July
Suroboyo tropongan , sometimes forwarded with walang snicker , gedong smart ,
krucilan or other new creations .
Remo dance can be
danced with ladies style or styles in both men's show together or alternately .
Dressmaking Dance Remo
Clothing from Remo
dancers there are various kinds of styles , including : Style Sawunggaling ,
Surabayan , Malangan , and Jombangan . There are also the typical fashion wear
for women Remo Dance styles . Dancers use this type or style of costume that is
sawonggaling Surabaya consisting of the top black apparel brings the 18th
century , black velvet pants with gold trimmings and batik , there is a waist
belt and dagger , right there dipaha scarves hanging up kemata feet . Female
dancer wearing a knot ( bun ) in her hair .
Pendekatan Terhadap Karya Sastra
Berbagai Pendekatan Terhadap Karya
Sastra
Agar mendapat pemaknaan yang mendalam dan kaya saat
menikmati sebuah karya sastra maka aku mencoba mencari buku yang berkaitan
dengan metode penelitian sastra. Dan alhamdulillah, di perpustakaan
kotaku, kutemukan Metodololgi Penelitian Sastra, sebuah buku yang berisi
kumpulan makalah yang ditulis oleh para pakar sastra berkaitan tentang prosedur
umum kegiatan penelitian sastra, prosedur khusus penelitian sastra, dan
berbagai alrternatif pendekatan sastra dengan dilengkapi contoh-contoh
konkretnya. Dan terhadap buku itu, tidak semuanya kubaca, hanya yang kuperlukan
saja, sesuai kebutuhanku, yakni beberapa tentang pendekatan penelitian sastra.
Dalam buku ini, aku belajar tujuh macam pendekatan sastra:
strukturalisme, semiotik, intertekstual, resepsi, stilistika, sosiologi sastra
dan dekonstrusi. Tentang strukturalisme aku belajar dari tiga tulisan mereka:
Analisis Struktural: Salah Satu Pendekatan dalam Penelitian Sastra makalah
Drs. Tirto Suwondo, Penelitian Sastra dalam Persepektif Genetik Dr.
Iswanto dan Strukturalisme Dinamik dalam Pengkajian Sastra entah siapa
pengarangnya aku lupa mencatatnya. Kemudian tentang semiotik aku belajar kepada
Prof. Djoko Pradopo dari makalahnya Penelitian Sastra dengan Pendekatan
Semiotik. Selanjutnya intertekstual aku peroleh dari Dra. Rina Ralih S.S Pendekatan
Intertekstual dalam Penelitian Sastra. Tentang resepsi dari Dr. Imran
Abullad Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya. Tentang stilistika dari
Saminto A. Sayuti Penelitian Stilistika: Beberapa Pengantar . Dan
tentang dekonstruksi dari tulisan Dr. Faruk. H.T Dekontruksionisme dalam
Sasrtra. Cukup pusing kucerna penjelasan mereka meski aku bisa merasakan
bahwa dalam karang mereka, mereka berusaha dengan cermat menjelaskan sesuatunya
dengan gampang dan berusaha tidak membebani pembaca dengan penjelasan yang berat
dan rumit. Dan dengan seadanya, kutulis hasil bacaanku ini dengan maksud semoga
tulisan ini dapat bermanfaat.
Strukturalisme
Apa itu strukturalisme? Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan deskripsi struktur. Adapun asumsi dasar dari kajian ini adalah bahwa karya sastra merupakan suatu karya yang otonom dan ia, dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur pembangunnya yang saling berjalinan satu sama lain.
Apa itu strukturalisme? Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan deskripsi struktur. Adapun asumsi dasar dari kajian ini adalah bahwa karya sastra merupakan suatu karya yang otonom dan ia, dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur pembangunnya yang saling berjalinan satu sama lain.
Ada tiga bentuk strukturalisme itu; strukturalisme klasik,
strukturalisme genetik dan strukturalisme dinamik. Struktulalisme klasik,
adalah strukturalisme yang paling awal. Ia merupakan strukturalisme paten.
Kajian yang hanya mengkaji struktur semata. Dalam kajian sastra, struktur macam
ini, tidak peduli dengan hal lain kecuali yang berkaitan dengan struktur di
dalam karya sastra. Tak ada hal lain yang perlu diteliti kecuali struktur karya
sastra.
Penerapan strukturalisme klasik dalam karya sastra dilakukan
dengan cara memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna sastra dapat
dipahami dengan jelas. Akan tetapi perlu dicatat bahwa pemahaman dan pengkajian
antar struktur fakta sastra tersebut harus ditopang oleh pengetahuan yang
mendalam tentang pengertian, peran, fungsi, dan segala sesuatu yang berkaitan
dengan unsur tersebut. Misalnya, ketika peneliti membahas unsur tokoh dalam
novel, maka ia harus tahu apa itu tokoh dalam novel dan fungsinya tersebut
dengan baik dalam struktur bangunan sebuah novel.
Meski tampak mampu menggambarkan karya sastra secara
objektif, namun di balik itu, ada dua hal yang menjadi kelemahan strukturalisme
macam ini: pertama peneliti melepaskan sastra dari latar belakangnya dan kedua,
ia mengasingkan sastra dari relevansinya dengan budaya. Bahwa sastra tidak
serta lahir begitu saja, ia dilatar belakangi oleh hal-hal yang berada di luar
dirinya.
Kemudian, dari kelemahan di atas itu, maka muncullah dua
bentuk strukturalisme lain, yakni strukturalisme genetik dan strukturalisme
dinamik. Yang pertama, strukturalisme genetik, adalah strukturalisme yang tidak
hanya melibatkan struktur sastra melainkan juga kehidupan pengarang dan kondisi
sosial masyarakat yang mendorong karya itu lahir. Arti genetik itu
sendriri adalah “asal usul karya sastra” yang berati diri pengarang dan kenyataan
sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat ia diciptakan. Tokoh
strukturalisme genetik adalah Lucien Goldman.
Menurut Goldman, ada dua macam karya sastra. Pertama, karya
sastra pengarang utama, yakni karya sastra yang strukturnya sebangun dengan
struktur kelompok atau kelas sosial tertentu. Kedua, karya sastra pengarang
kelas dua, yakni karya sastra yang sekedar raproduksi segi permukaan realitas
sosial dan kesadaran kolektif. Nah, karya sastra yang cocok diteliti dengan
kajian strukturalisme genetik adalah karya sastra yang pertama, karena, menurut
Goldman, di dalam karya tersebut terdapat apa yang disebut dengan “problematik
hero” yaitu permasalahan-permasalahan yang berhadapan dengan kondisi sosial
yang dari sana pengarang berusaha mendapatkan/menentukan suatu nilai tertentu
yang diimplementasikannya kedalam karyanya. Mengetahui nilai tersebut berarti
menangkap pandangan dunia sang sastrawan.
Adapun penerapan terhadap pendekatan strukturalisme genetik
ini, dapat dilakukan dengan dimulai dari kajian unsur-unsur intrinsik sastra,
baik secara parsial maupun kajian keseluruhan. Kemudian mengkaji latar belakang
kehidupan sosial kelompok pengarang karena ia merupakan bagian dari komunitas
masyarakat tertentu. Di samping itu tidak luput juga untuk mengkaji latar
belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat ia
diciptakan oleh pengarang. Dan akhir dari kegiatan ini, adalah berhasil untuk
mengungkap pandangan dunia pengarang tersebut.
Yang kedua, yang lahir dari akibat ketidakpuasan terhadap
kajian strukturalisme klasik adalah strukturalisme dinamik. Maksud “dinamik” di
sini mengacu pada dinamika yang diakibatkan pembacaan kreatif dan pembaca yang
dibekali konsiliasi yang selalu berubah, ia dianggap sebagai homo
significan, makhluk yang membaca dan menciptakan tanda.
Jadi dapat dikatakan bahwa strukturalisme dinamik adalah
kajian strukturalisme dalam rangka semiotik. Artinya, karya sastra dikaitkan
dengan sistem tanda. Tanda mempunyai dua fungsi: otonom, yakni tidak menunjuk
di luar dirinya dan informasional, yakni menyampaikan pikiran, perasaan dan
gagasan. Adapun penerapannya dapat dilakukan dengan pertama-tama menjelaskan
struktur karya sastra yang diteliti. Kemudian menjelaskan kaitan pengarang,
realitas, karya sastra dan pembaca.
Semiotik
Apa itu semiotik? Secara sederhana semiotik berarti ilmu tentang tanda. Ia mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi, yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Ia memiliki tujuan untuk mengetahui sistem tanda-tanda dengan menentukan konvensi-konvensi apa saja yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Kajian semiotik ini mempunyai asumsi dasar bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.
Apa itu semiotik? Secara sederhana semiotik berarti ilmu tentang tanda. Ia mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi, yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Ia memiliki tujuan untuk mengetahui sistem tanda-tanda dengan menentukan konvensi-konvensi apa saja yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Kajian semiotik ini mempunyai asumsi dasar bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.
Semiotik merupakan perkembangan atau lanjutan dari
strukturalisme. Ya. Strukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan semiotik.
Alasannya, karya sastra itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa
memperhatikan sistem tanda, maka tanda dan maknanya dan konvensi tanda, maka
struktur karya sastra tidak akan dapat dimengerti maknanya secara optimal.
Tanda, dalam semiotik, terdiri dari penanda dan petanda.
Penanda (signifier) adalah bentuk formal yang menandai petanda.
Sementara petanda (signified) adalah sesuatu yang ditandai penanda itu,
yakni artinya. Menurut Pradopo, hubungan antara penanda dan petanda, terjadi
dalam tiga bentuk. Yang pertama dalam bentuk ikon, yakni hubungan yang bersifat
alamiah. Contoh gambar kuda menunjukkan hubungan antara tanda kuda dengan kuda
yang sebenarnya (alami). Yang kedua dalam bentuk indeks, yakni hubungan
kausalitas. Contoh asap menandai adanya api. Yang ketiga simbol, yakni tidak
bersifat alamiah atau kausalitas melainkah hubungannya bersifat abitrer
(semau-maunya). Contoh kata “ibu” atau gamabar “bualan bintang” maknanya tidak
bisa tentukan begitu saja, ia ditentukan oleh sebauh konvensi.
Lalu bagaimana langkah kerja kajian semiotik ini? Caranya
adalah dengan menyendirikan satuan-satuan minimal yang digunakan sistem tanda
tersebut dengan memakai hubungan paradigmatik dan sintagmatik. Kemudian
menentukan konvensi-konvensi yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna.
Dalam kajian semiotik, ada tiga metode yang dikenal.
Pertama, konvensi ketaklangsungan ekspresi, yakni mengenali makna tanda dengan
beberapa cara: menelaah pergantian arti (displacing of meaning) dengan
memperhatikan, memperhatikan penyimpangan arti (distorting of meaning)
dan penciptaan arti (creativy of meaning). Kedua, intertekstual, yakni
membandingkan, menjajarkan dan mengkontraskan karya sastra tersebut dengan teks
lain dengan mencari hypogram atau landasan penciptaan yang menghubungkan
karya tersebut dengan karya sastra lain sebelumnya yang dicerapnya. Untuk lebih
jelasnya, nanti, kajian ini akan dibahas terpisah secara terperinci. Dan
ketiga, dengan heruestik dan hermeneutik, yakni (heruestik) membaca karya
sastra berdasarkan struktur dan memperjelas artinya, bila perlu menyisipkan
kata atau sinonim kata-kata dengan ditaruh dalam tanda
kurung karya tersebut, contohnya dalam puisi. Selanjutnya, (hermeneutik) yakni
menafirkannya dengan berusaha memahami secara keseluruhan karya tersebut.
Intertekstua
Di atas aku sudah mengatakan bahwa aku akan menjelaskan kajian intertekstual secara terpisah. Nah, di sinilah tempatnya. Intertekstual merupakan kajian teks yang melibatkan teks lain dengan mencari dan menelaah hubungan tersebut. Suatu teks, dalam kaca mata intertekstual, lahir dari teks-teks lain dan harus dipandang sesuai tempatnya dalam keluasan tekstual. Pendekatan ini memiliki asumsi bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya, termasuk sastra. Karya sastra merupakan respon pada karya sastra yang terbit sebelumnya. Bahwa suatu teks penuh dengan makna bukan hanya mempunyai struktur tertentu, suatu karangan yang menentukan dan mendukung bentuk, tetapi juga karena teks itu berhubungan dengan teks lain.
Di atas aku sudah mengatakan bahwa aku akan menjelaskan kajian intertekstual secara terpisah. Nah, di sinilah tempatnya. Intertekstual merupakan kajian teks yang melibatkan teks lain dengan mencari dan menelaah hubungan tersebut. Suatu teks, dalam kaca mata intertekstual, lahir dari teks-teks lain dan harus dipandang sesuai tempatnya dalam keluasan tekstual. Pendekatan ini memiliki asumsi bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya, termasuk sastra. Karya sastra merupakan respon pada karya sastra yang terbit sebelumnya. Bahwa suatu teks penuh dengan makna bukan hanya mempunyai struktur tertentu, suatu karangan yang menentukan dan mendukung bentuk, tetapi juga karena teks itu berhubungan dengan teks lain.
Pengertian “teks” tidak hanya yang tertulis saja atau tidak
juga yang suara yang meluncur dari lisan, akan tetapi dalam pengertian umum, ia
adalah dunia semesta ini, adat istiadat, kebudayaan film, drama dan lain-lain.
Semua itu adalah teks juga. Hubungan antar teks, tidak dipandang melulu bahwa
teks yang lahir akibat teks sebelumnya itu senantiasa meneladani teks
sebelumnya, tetapi juga yang menyimpang dan memberontak.
Tokoh pertama dalam dunia filsafat yang memperkenalkan
pendekatan ini adalah Jecques Derrida, kemudian diperdalam oleh Julia Kristeva.
Menurut Julia Kristeva, setiap teks merupakan mozaik dan merupakan penyerapan
(transformasi) teks-teks lain. Maksudnya, setiap teks, mengambil hal-hal yang
bagus lalu diolah kembali dalam sebuah karya baru atau karya baru itu ditulis
setelah melihat, mencerapi, menyerap hal yang menarik baik sadar maupun tidak
sadar. Dalam sastra, yang diserap dapat berupa konvensi sastra atau juga suatu
gagasan. Nah, konvensi dan gagasan yang dicerap itu dapat dikenali apabila kita
membandingkan teks yang menjadi hipogram-nya (yang menjadi landasan
penciptaan) dengan teks yang baru itu. Teks baru yang menyerap itu dan yang
mentrasformasikan hiporgam itu, dalam kajian intertekstual, disebut
dengan “teks transformatif”.
Resepsi
Suatu karya sastra tidak akan sama pembacaan, pemahaman dan penelitiannya sepanjang masa dalam seluruh golongan masyarakat tertentu. Karya sastra sejak ia diterbitkan, selalu akan mendapat tanggapan dari pembacanya. Demikian asumsi dari para pengkaji sastra lewat pendekatan resepsi. Mereka dalam mengkaji karya sastra, titik tekan yang dicapat, adalah respon pembaca
Suatu karya sastra tidak akan sama pembacaan, pemahaman dan penelitiannya sepanjang masa dalam seluruh golongan masyarakat tertentu. Karya sastra sejak ia diterbitkan, selalu akan mendapat tanggapan dari pembacanya. Demikian asumsi dari para pengkaji sastra lewat pendekatan resepsi. Mereka dalam mengkaji karya sastra, titik tekan yang dicapat, adalah respon pembaca
Ada dua macam hubungan pembaca dengan karya sastra. Yang
pertama disebut “horizon harapan” (horizon of espextation),
istilah ini dicetuskan oleh Hans Robert Jauss. “horizon harapan ini” dapat
ditentukan dengan meneliti norma-norma umum yang terpancar dari teks yang telah
dibaca oleh pembaca. Atau dapat dikenali dari pengetahuan dan pengalaman
pembaca atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya. Bisa juga dari
pertentangan antara fiksi dan kenyataan. Yang kedua disebut
“tempat-tempat terbuka” (balnk, opennes), istilah ini dicetuskan oleh
Wolfgang Iser. Iser memperkenalkan Konsep Efek (wirkung) yakni cara sebuah
karya mengarahkan reaksi pembaca terhadapnya. Menurut Iser, dalam sastra
terdapat kesenjangan antara teks dan pembaca dan disinilah, menurutnya, terjadi
kekosongan atau “tempat terbuka” itu yang kemudian diisi oleh pembaca. Dari
kekosongan yang telah diisi itulah terjadi respon antara pembaca sastra yang
berbeda-beda.
Bagaimana cara menerapkan pendekatan ini? Pertama, dapat
dilakukan secara eksperimental. Caranya, menetapkan objek-objek estetik karya
sastra kemudian menetapkan perbedaan dan persamaan objek-objek estetik tersebut
yang kemudian pada akhirnya menentukan relasi antar objek tersebut. Tujuannya
adalah untuk mengungkap reasksi pembaca masa kini. Kedua, lewat kritik sastra.
Bisa dilakukan dengan dua cara. Secara sinkronik, dalam suatu kurun waktu atau
secara diakronik, dalam sepanjang sejarahnya. Perlu dicacat bahwa pengambialan
simpel respon pembaca ini tidak bisa didasarkan pada tanggapan individual,
melainkan dari yang mewakili norma pada masa waktu tertentu. Ketiga, secara
intertekstual. Dengan cara meneliti fenomena resepsi pengarang terhadap yang
pernah dibacanya dilibatkan dalam ciptaannya dengan menelaah terhadap hiporam-nya.
Stilistika
Secara bahasa, stilistika berarti pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra. Sedangkan dalam pengertiannya secara umum, dapat dikatakan, bahwa ia merupakan bagian dari ilmu linguistik yang memusatkan perhatiannya kepada variasi penggunaan bahasa. Fokus penelitian stilistika terhadap sastra adalah untuk menentukan suatu prinsip yang mendasari kesatuan karya sastra dan dapat menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra, yang mungkin juga dapat diarahkan untuk membahas isi.
Secara bahasa, stilistika berarti pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra. Sedangkan dalam pengertiannya secara umum, dapat dikatakan, bahwa ia merupakan bagian dari ilmu linguistik yang memusatkan perhatiannya kepada variasi penggunaan bahasa. Fokus penelitian stilistika terhadap sastra adalah untuk menentukan suatu prinsip yang mendasari kesatuan karya sastra dan dapat menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra, yang mungkin juga dapat diarahkan untuk membahas isi.
Jika yang dibahas atilistika adalah penggunaan bahas atau
yang disebut dengan gaya bahasa, tetapi, apa itu gaya bahasa? Menurut Enkvist,
gaya berarti pembungkus yang membungkus pemikiran atau pernyataan yang telah
ada sebelumnya. Bisa juga berarti pilihan di antara pernyataan yang mungkin.
Atau sekumpulan ciri pribadi. Atau bisa juga berarti penyimpangan norma atau
kaidah. Atau hubungan antara sekumpulan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang
lebih luas daripada sebuah kalimat.
Ada yang berpendapat bahwa gaya bahasa itu sejatinya datang
dari kepribadian seseorang yang tidak bisa ditiru sehingga menjadikan antara
satu orang pengarang dengan pengarang lainnya pasti berbeda, menunjukkan ciri
khas. Ada pula yang berpendapat ia merupakan ciri sebuah teks yang dapat
dicontoh. Ada juga yang menyatakan bahwa ia merupakan kesan yang dihubungkan
oleh sebuah kelompok tertentu, lahir dari sebuah kultur.
Kajian stilstika di dalam sastra dapat dilakukan dengan
menganalisis tentang sistem linguistik dan membedakan sistem satu dengan sistem
lain dengan metode kontras, mangamati deviasi dan distorsi terhadap pemakaian
bahasa yang normal dan berusaha menemukan estetisnya.
Sosiologi Sastra
Sastra menampilkan kehidupan sementara kehudupan itu sendiri, adalah kenyataan sosial. Sastra dapat menumbuhkan siakap sosial tertentu atau bahkan mencetuskan peristiwa tertentu. Sastra merupakan institusi sosial yang ditentukan oleh sastrawan sebagai anggota masyarakat. Dari asumsi ini maka lahirlah kajian sastra menggunakan pendekatan sosial yang disebut dengan sosiologi sastra..
Sastra menampilkan kehidupan sementara kehudupan itu sendiri, adalah kenyataan sosial. Sastra dapat menumbuhkan siakap sosial tertentu atau bahkan mencetuskan peristiwa tertentu. Sastra merupakan institusi sosial yang ditentukan oleh sastrawan sebagai anggota masyarakat. Dari asumsi ini maka lahirlah kajian sastra menggunakan pendekatan sosial yang disebut dengan sosiologi sastra..
Apa yang maksud dengan sosiologi sastra? Sosiologi sastra
adalah kajian sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan gambaran lengkap, utuh dan menyeluruh tentang hubungan
timbal balik antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat. Yakni: seberapa
jauhkah nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial, dan seberapa jauhkah nilai
sosial mempengaruhi nilai sastra.
Sosiologi sastra mempunyai tiga sasaran yang dibahas.
Sasaran pertama adalah bahwa ia mengkaji fungsi sosial dari sebuah karya
sastra: apakah karya sastra yang dikajinya ini memposisikan dirinya sebagai
Nabi, atau ia menganggap karya sastranya sebagai penghibur saja, atau
mengkompromikan keduanya? Sasaran kedua adalah konteks sosial dari
sastrawan itu sendiri yang meliputi; apa dan bagaimana pencaharian
pengarang, profesionalisme kepengarangannya dan masyarakat yang dituju
pengarang. Dan sasaran yang ketiga adalah bahwa sejauh mana karya itu
mencerminkan sebuah masyarakat.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh peneliti bahwa
sastra mungkin tidak dapat dikatakan cermin masyarakat saat ia ditulis, bahwa
sifat “lain dari yang lain” sastrawan mempengaruhi pemilihan dan
penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya, bahwa genre sosial
biasanya/sering merupakan sikap sosial seluruh masyarakat kelompok tertentu dan
bukan sikap seluruh sosial masyarakat dan bahwa satra yang berusaha menampilkan
keadaan masyarakat secermat-cermatnya, mungkin saja tidak dapat diterima
sebagai cerminan masyarakat.
Dekonstruksi
Dekontruksi lahir dilatarbelakangi dari sikap seorang filsuf kontemporer bernama Jaques Derrida yang menolak logosentrisme. Logosentrisme adalah keinginan akan suatu pusat atau suatu “kehadiran” akan sabda Tuhan, yang mampu menjelaskan segalanya. Ia merupakan sebuah usaha yang terus-menerus untuk menghancurkan dan meniadakan pemusatan (decentering). Cara Derrida menjalankan misinya itu adalah dengan membangun teori semiotik yang disebut “gramatologi”, yaitu mempertanyakan kembali tanda dan tulisan dengan menolak konsep tanda Sassure penanda dan petanda, dengan konsep “jejak” (trace) yang misterius dan tidak terungkap (imprecitible), deferinsiasi dan tulisan
Dekontruksi lahir dilatarbelakangi dari sikap seorang filsuf kontemporer bernama Jaques Derrida yang menolak logosentrisme. Logosentrisme adalah keinginan akan suatu pusat atau suatu “kehadiran” akan sabda Tuhan, yang mampu menjelaskan segalanya. Ia merupakan sebuah usaha yang terus-menerus untuk menghancurkan dan meniadakan pemusatan (decentering). Cara Derrida menjalankan misinya itu adalah dengan membangun teori semiotik yang disebut “gramatologi”, yaitu mempertanyakan kembali tanda dan tulisan dengan menolak konsep tanda Sassure penanda dan petanda, dengan konsep “jejak” (trace) yang misterius dan tidak terungkap (imprecitible), deferinsiasi dan tulisan
Dalam aplikasinya, dekonstruksi berusaha untuk membalikkan
herarkis terhadap sistem oposisional yang sudah ada. Kemudian melakukan
oposisi-oposisi yang sudah klasik, pemelesetan besar-besaran terhadap sistem
itu secara keseluruhan. Caranya adalah dengan menentukan oposisi-oposisi
tertentu merupakan pemaksaan ideologi metafisik dengan satu membawa
preoposisi-preoposisi dan peranannya dalam nilai metafisika. Menunjukkan
bagaimana sistem itu dihancurkan dalam teks yang mengungkap dan bersandar kepadanya.
Mempertanyakan oposisi dengan memakainya dalam argumen sendiri dan
menerima kembali dengan suatu pembalikan yang memberinya status akibat dan
akibat yang berbeda. Akan tetapi perlu dicatatat bahwa dekonstruksi bukanlah
sebuah teori. Ia anti teori dan yang dapat kita ambil adalah hanya semangatnya
saja.
pendekatan Sastra
Menurut M.H Abrams ada empat pendekatan dalam kajian sastra:
- Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan dalam kajian sastra yang
menitikberatkan kajianya pada ekspresi perasaan atau tempramen penulis (Abrams,
1981: 189).
Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangat penting dalam kajian
dan apresiasi sastra.
Penilaian terhadap karya seni ditekankan pada keaslian dan kebaruan
(Teew, 1984: 163-165).
- Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif merupakan suatu pendekatan yang hanya menyelidiki karya
sastra itu sendiri tanpa menghubungkan dengan hal-hal di luar karya sastra.
Menurut Goldmann studi karya sastra harus dimulai dengan analisis struktur,
diantaranya menganalisis struktur kemaknaan yang dapat mewakili pandangan dunia
penulis, tidak sebagai individu, tetapi sebagai struktur mental transindividu
dari sebuah kelompok sosial atau wakil golongan masyarakatnya. Atas dasar
pandangan dunia penulis, peneliti karya sastra dapat membandingkan dengan
data-data dan anlisis keadaan sosisal masyarakat bersangkutan.
- Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan
kajianya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra
(Abrams, 1981: 189).
Sastra sebagai dokumen sosial. Kenyataan manusia dalam kehidupan
sehari-hari adalah kenyataan yang telah ditafsirkan sebelumnya dan yang
dialaminya secara subjektif sebagai dunia yang bermakna dan kohern. Hubungan
antara seni dan kenyataan merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung,
yang ditentukan oleh konvensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi
sastra. (Teew, 1984: 224-229)
- Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan
kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati
karya sastra. Pembaca memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan
sebuah karya merupakan karya sastra atau bukan.
Horatius dalam art poetica menyatakan bahwa tujuan penyair ialah
berguna atau memberi nikmat, ataupun sekaligus memberikan manfaat dalam
kehidupan. Dari pendapat inilah dimulai pendekatan pragmatik.
Dikutip dari Wahyudi Siswanto, 2008: 181-191).
Carita lan Legenda Gunung Bromo
Crita lan Katrangan Gunung Bromo. Miturut crita suku tengger
, mesthine sak wektu nalika karajan Majapahit sadurunge ngalami lan anggempur
kang TCTerms warna kebingungan kanggo bangsa pribumi manggon wilayah trek
sabanjure kanthi kapisah dadi lorone loro Yan judhul kanggo Gunung Bromo lan 2
menyang Bali. 2 dadi wilayah iki kanggo tanggal wis 2 umum sing loro dipandu
dening Hindu agama kapercayan .
Crita lan Katrangan Gunung Bromo, suku Tengger ing lokasi
Gunung Bromo , perch jeneng rawuh saka legenda Roro lan Joko Seger padha kalem
minangka asal saka jeneng perch . " Teng " roro jeneng seselan -an
" teng " lan " gapura " seselan jeneng Joko a " ger
" lan Gunung Bromo dhewe dikenali minangka gunung suci . Padha nyebataken
gunung Brahma . Wong banjur nelpon Jawa Gunung Bromo.
Carita lan kegenda Gunung Bromo. Sawijining dina Rara kalem
ngresiki dening waluku sing sakti mandraguna. Plow banget populer piala. Rara
Gamelan kalem populer wani ora ngilangi kuwi raos mung kanggo pelamar sing
kuat. Banjur dijaluk digawe ing segara ing tengah gunung . Karo kepinginan
aneh, pelamar nganggep iku ora ana maneh cukup tenung wishes. Dijaluk sing
segara kudu alangi liwat dalan ing wayah sore, kang wiwit ing Sunset rampung
ing Sunrise. Disanggupinya kepéngin rara kalem , amarga kanggo menehi kemampuan
kanggo kalem penasaran iku ndadekake roro . Nanging roro kalem wiwit pound
beras ing wayah sore . Minangka yen esuke wis teka. Pungkasanipun Sewandana
gagal woo Roro Anteng . Sawisé kuwi dheweké kontemplasi ala luck . Kanepson lan
emosi duka salajengipun ditambahake Nihan ( klapa Nihan) digunakake minangka
alat kanggo dredge wedhi lan mbuwang ambruk pasuryan mudhun ing sisih Gunung
Bromo gunung lan nguripake menyang soko sing nganti bubar dijenengi Nihan
gunung .
Kanthi Gagal nggawe waluku segara ing tengah-tengah gunung
Bromo , seneng atimu citalah rara kalem . Panjenenganipun terus sesambetan
kaliyan dheweke pacar, george Seger . Rara mangsa dadi kalem lan Joko Seger
seneng saperangan , amarga loro mau tresna saben liyane lan katresnan.
Miturut Crita lan Katrangan Gunung Bromo, tiyang kalih kalem
lan Joko Seger rara mbangun pamukiman banjur mrentah ing lokasi minangka
purbowasesa Mangkurat perch perch ing, sing tegesé " pamarentah perch dear
". Jeneng perch dijupuk saka mburi sing I. jeneng rara kalem lan Joko
Seger . Tembung uga tegese Tenggering perch sregala utawa introduksi saka
dhuwur moral , langgeng tentrem tandha .
Crita lan Katrangan Gunung Bromo. Saka wektu kanggo wektu
wong manggon perch sejahtera lan tentrem , nanging panguwasa ora supaya seneng
, amarga sawise dawa paling pasangan roro kalem lan perch bujangan menage ora
wis rahayu karo turunane. Dadi iki mutusaké loro mau kanggo menek menyang
ndhuwur Gunung Bromo Selo jadi karuniai turunane / anak .
Langganan:
Postingan (Atom)